Selasa , Oktober 20 2020
Home / Penelitian / Tiga Negara “India, Inggris dan Indonesia” Manfaatkan Limbah Plastik untuk Pembangunan Jalan
Tiga Negara “India, Inggris dan Indonesia” Manfaatkan Limbah Plastik untuk Pembangunan Jalan

Tiga Negara “India, Inggris dan Indonesia” Manfaatkan Limbah Plastik untuk Pembangunan Jalan

Fhoto: The guardian

Chennai,India-Ternyata plastik bekas bisa juga dijadikan salah satu bahan untuk membuat jalanan. Dengan begitu, penggunaan plastik sebagai bahan dasar pembuat jalan bisa meminimalisir masalah sampah plastik. Seperti misalnya di Jambulingam Street di Chennai, India. Sebelumnya jalan utama di wilayah Nungambakkam ini telah menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Kemudian dibuat jalan raya pada tahun 2002. Sejak tahun pembuatannya tidak sedikitpun menunjukkan tanda kerusakan berarti, sekalipun diguyur hujan deras berulang kali. Yang mengejutkan adalah material pendukung jalanan ini hanyalah lem polimer yang bahan dasarnya adalah sampah plastik.

Jambulingan Street ini merupakan salah satu jalanan plastik yang paling awal dibangun di India. Sejak 15 tahun lalu India sudah menyadari kemungkinan membludaknya sampah plastik yang kemudian memicu inovasi untuk memanfaaatkannya menjadi bahan dasar jalan raya. Jalanan polimer yang terbukti dapat bertahan lama ini kemudian mendapat banyak pujian bahkan hingga ke negara tetangga India, Bhutan. “Jalanan plastik ini tidak menunjukkan kerusakan sedikitpun, bahkan tidak ada tanda retak samasekali. Padahal usianya sudah lebih dari empat tahun,” begitu yang disampaikan badan penanggulangan polusi di India seperti dilansir The Guardian, Jumat (24/2/2017). 

Kini, lebih dari 21.000 mil atau sekitar 34.000an km jalan raya di India menggunakan plastik, yang sebagian besarnya terletak di selatan Tamil Nadu. Kebanyakan memang jalanan di wilayah pinggiran, namun beberapa juga telah dibangun di kota besar seperti Chennai dan Mumbai.

Ternyata penambahan bahan polimer untuk jalan raya ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Tahun 70-an, model seperti ini sudah marak di Eropa. Begitupun 35% wilayah di Amerika Utara.Beberapa wilayah seperti Illinois, Washington, hingga Ontario juga mengaplikasikan hal yang sama. Terbukti, cara ini ampuh mengurangi efek perubahan iklim, salju tebal, bahkan mengurangi polusi suara. Bahan plastik ini pun mampu bertahan dalam cuaca panas hingga 66 derajat Celsius, yang membuat beberapa negara di Timur Tengah juga kini menggunakannya.

Meski begitu, jenis polimer yang digunakan India tidak semahal yang digunakan di Amerika. Di India, bahannya terbuat dari material konvensional. Tiap kilometernya menggunakan satu meter plastik. Dr. R. Vasudevan, seorang profesor kimia dan dekan fakultas Teknik di Thiagarajar College, Madurai, adalah yang pertama memunculkan ide ini. Proses ini akhirnya dipatenkan pada tahun 2006.

“Ini adalah material yang saya coba rancang sendiri antara satu dengan yang lainnya,” jelas Dr. Vasudevan.

Untuk jangka pendek, tantangan terbesar dari penggunaan jalanan plastik ini adalah eksekusinya. Campur tangan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menyukseskan program ini. Tamil Nadu menjadi wilayah pertama di India yang membangun area industri menggunakan sampah plastik ini. Sebagian besar pelaku kerjanya adalah wanita yang menjual produk rumahan mereka. Seperti yang juga dikatakan Perdana Menteri India, terbukanyaa lapangan kerja untuk para pengusaha kecil dan menengah ini memang menjadi salah satu manfaat yang ingin didapat dari proses penggunaan jalanan plastik.(dry/lth/as/detik.com/24022017-12:43)

Fhoto: MSN

Cumbria Country,Inggris-Demi meminimalisir penggunaan material, banyak negara kini mengembangkan jalan raya dengan menggunakan bahan dasar dari plastik daur ulang. Tak hanya efektif dari segi penggunaan material, jalan raya dari plastik bekas ini juga disebut-sebut lebih tahan lama dibandingakan jalan raya aspal yang ada saat ini. Karena itulah penggunaan material ini mulai diuji di jalanan Inggris, tepatnya di kawasan Cumbria County.Seperti dilansir MSN, material plastik daur ulang untuk jalan raya ini dirancang oleh perusahaan asal Skotlandia MacRebur. MacRebur menyebut material ini dengan nama MR6. Untuk membangun jalan yang lebih kuat, MR6 nantinya juga akan dicampur dengan bahan-bahan pembuat jalan raya lainnya.

Pada umumnya, pembuatan jalan raya biasanya menggunakan 90% campuran antara batu, pasir dan gamping ditambah 10% material bernama bitumen yang berbahan dasar minyak. Bitumen inilah yang nanti akan digantikan oleh MR6 rancangan MacRebur.

Pihak MacRebur mengungkapkan bahwa MR6 dibuat dari campuran material daur ulang plastik bekas yang dicampur dengan aspal untuk memberikan ketahanan yang lebih lama. Mereka juga menyatakan bahwa jalan dengan MR6 lebih tidak mudah retak dibandingkan jalan biasanya. Selain ini, jalan berbahan dasar plastik ini akan membuat ban lebih tahan lama yang kemudian akan meningkatkan efisiensi kendaraan.(dry/ddn/as/detik.com/04052017-09:29)

Fhoto : Dok. Humas Menko Maritim, Limbah Plastik diujicobakan sebagai campuran aspal untuk jalan di kampus Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali pada Sabtu (29/07/2017)

 
Bali,Indonesia-Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mulai melakukan pembangunan jalan raya menggunakan aspal bercampur limbah plastik di Jimbaran, Bali, Sabtu (29/7). Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan PUPR, Danis Sumadilaga mengatakan, pihaknya sedang melakukan standardisasi terhadap teknologi ini.

“Nantinya kami akan membagikan kepada semua pihak yang akan membangun jalan dengan plastik ini, yang modul untuk pembangunan jalan sesuai dengan kebutuhan mereka. Untuk jalan besar atau jalan kecil,” kata Danis dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan.com.

Danis menuturkan, proses pengujian untuk penyusunan modul kini sedang berlangsung. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan lembaganya, Indonesia membutuhkan 2,5 ton sampah plastik untuk jalan sepanjang satu kilometer dengan lebar tujuh meter.

 

Fhoto : Dok. Humas Menko Maritim, Limbah Plastik diujicobakan sebagai campuran aspal untuk jalan di kampus Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali pada Sabtu (29/07/2017)

 
“Untuk jalan dengan beban lalu lintas berat dibutuhkan dua lapisan plastik, sehingga kebutuhannya bisa mencapai lima ton,” ujar Danis.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia, Iptek, dan Budaya Maritim Kemenko Maritim, Safri Burhanuddin mengatakan, teknologi ini nantinya bisa diterapkan di seluruh Indonesia.

“Karena teknologi ini cukup mudah, semua bisa melakukannya. Saya harapkan bukan hanya PUPERA (Kemen PUPR) yang akan mengimplementasikannya, tetapi hingga lingkup pedesaan pun bisa melakukannya, dengan memanfaatkan dana desa misalnya,” ujar Safri.

 

Fhoto : Dok. Humas Menko Maritim, Limbah Plastik diujicobakan sebagai campuran aspal untuk jalan di kampus Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali pada Sabtu (29/07/2017)

 
Safri menuturkan, untuk mengantisipasi kekurangan limbah plastik di masa datang, pihaknya telah bekerja sama dengan asosiasi pengelola sampah plastik untuk menyediakan cadangan kebutuhan sampah plastik.

“ADUPI (Asosiasi Pengelola Sampah Plastik) di 16 kota telah berkomitmen kepada kami untuk menyediakan sampah plastik di kota-kota tersebut,” ujarnya.

Plastik yang digunakan, adalah sampah kantung plastik kresek, bukan plastik botol dan sejenisnya. Hal ini lantaran plastik botol yang lebih memiliki nilai ekonomis atau dapat dijual kembali dibanding plastik kresek.

Hasil penelitian Balitbang PUPR juga mengungkapkan, aspal dengan campuran limbah plastik akan menghasilkan perkerasan; struktur berlapis jalan yang lebih kuat, tahan lama, dan lebih murah.

Teknologi ini sebelumnya ditemukan oleh seorang ilmuwan kimia asal India, Rajagopalan Vasudevan pada 2015. Hingga kini, India telah membangun jalan sepanjang lebih dari 25.000 kilometer dari aspal berbahan limbah plastik.

Pada bulan Juni lalu, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Vasudevan telah menandatangani MoU untuk transfer teknologi dan penggunaan hak paten atas teknologi tersebut.(kumparan.com/30/07/2017-08:27) 

Foto : Norbertus Arya Dwiangga Martiar/Kompas Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono bersama Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut B Pandjaitan meninjau uji coba perkerasan jalan dengan campuran limbah plastik di Kota Bekasi, Sabtu (16/9/2017).

Bekasi,Indonesia-Pemerintah mencoba limbah plastik sebagai bahan campuran aspal untuk perkerasan jalan. Jika sebelumnya pemerintah melakukan uji coba di jalan dengan lalu lintas minim di Bali, kini uji coba dilakukan di Jalan Sultan Agung, Kota Bekasi. Ke depan, perkerasan jalan dengan memanfaatkan campuran limbah plastik akan diperluas.

”Dampak penerapan ini menurut saya luar biasa. Tampaknya bermain-main, padahal dampak terasa secara ekonomi, kesehatan, kebersiham, yang berpengaruh pada pariwisata,” ujar Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang bersama dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono ketika meninjau uji coba perkerasan jalan di Jalan Sultan Agung, Kota Bekasi, Sabtu (16/9/2017).

Limbah plastik untuk campuran aspal telah diterapkan di India dan Inggris. Sementara Pemerintah Indonesia melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR telah mencoba menelitinya sejak 2008. Pada Juli lalu, teknologi limbah plastik untuk campuran aspal pertama kali diterapkan di lingkungan Universitas Udayana, Bali. Selanjutnya Kota Bekasi merupakan lokasi kedua uji cobanya.

Menurut Luhut, pemanfaatan limbah plastik untuk perkerasan jalan di Indonesia berangkat dari keprihatinan bahwa Indonesia disebut sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah China. Dia berharap, ke depan volume limbah plastik yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan jalan akan semakin besar.

Basuki menyebutkan, limbah plastik ini berfungsi sebagai perekat agregat yang digunakan untuk perkerasan jalan. Sementara limbah plastik yang digunakan adalah limbah plastik jenis low density polyethylene atau biasa dikenal dengan tas keresek.

”Ini akan dilanjutkan di Medan, Surabaya, dan di (tempat istirahat) Tol Tangerang-Merak,” ucap Basuki.

Menurut Basuki, kini yang diperlukan adalah membuat sebanyak mungkin mesin pencacah plastik untuk mencacah plastik hingga berukuran 9 X 9 milimeter. Saat ini, industri yang memiliki fasilitas tersebut tidak banyak.(kompas.com/nadm/PjR)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*