Selasa , Oktober 20 2020
Home / Penelitian / Para Peneliti Menguji Obat Psikedelik Pada Otak Buatan
Para Peneliti Menguji Obat Psikedelik Pada Otak Buatan

Para Peneliti Menguji Obat Psikedelik Pada Otak Buatan

Obat psikedelik digadang punya kemampuan untuk menjadi obat antidepresan. Salah satunya yang lagi beken adalah tanaman ayahuasca yang dapat dijumpai di hutan hujan Amazon.

Untuk membuktikan khasiatnya, tim peneliti dari Brazil yang dipimpin oleh Stevens Rehen, Professor Federal University of Rio de Janeiro (UFRJ) dan Kepala Peneliti di D’Or Institute for Research and Education (IDOR), sampai membuat otak mini di laboratorium. Mereka ingin tahu lebih jauh efek dari ayah uasca pada otak manusia.

Otak buatan atau organoid itu ditumbuhkan selama 45 hari dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama direndam dengan senyawa yang diisolasi dari ayahuasca, sedangkan sisanya direndam dengan alkohol dan senyawa normal.

Para peneliti lalu memperhatikan perbedaan jumlah protein untuk mengetahui efek ayahuasca.

Pada organoid yang direndam ayahuasca, protein yang terkait dengan proses dasar memori timbul lebih banyak. Perubahan lainnya adalah efek anti-inflamasi yang dianggap sebagai anti-depresan.

Namun, penelitian yang dipublikasikan dalam Scientific Reports ini juga memiliki batasannya.

Salah satunya adalah ukuran organoid yang hanya 5-6 milimeter, setara dengan otak embrio berusia 3-4 bulan. Para peneliti menumbuhkan organoid hanya sampai ukuran tersebut karena otak yang lebih besar butuh nutrisi dan oksigen dari aliran darah.

Akan tetapi, hal ini berarti hasil penelitian tidak bisa diaplikasikan begitu saja pada otak manusia dewasa.

“Ini adalah studi yang menarik,” kata Michal Stachowiak, peneliti di Universitas Buffalo seperti dikutip dari Newsweeek pada Senin (9/10/2017).

“(Tapi) saya tidak yakin modelnya dikembangkan dengan benar. Saya skeptis model ini bisa digunakan untuk mencerminkan otak manusia dewasa yang penuh neuron,” ujarnya lagi.

Meski demikian, metode ini bukan sama sekali tidak berguna. Stachowiak berkata bahwa organoid bisa diaplikasikan untuk penelitian lainnya, terutama penyakit yang menjangkit otak pada tahap awal perkembangan, seperti skizofrenia, zika, dan autisme.(PjR/kompas.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*