Rabu , Juli 15 2020
Home / Artikel / Nilai Karakter Yang Dapat Dikembangkan Melalui Kegiatan Kepramukaan
Nilai Karakter Yang Dapat Dikembangkan Melalui Kegiatan Kepramukaan

Nilai Karakter Yang Dapat Dikembangkan Melalui Kegiatan Kepramukaan

Beberapa minggu yang lalu saya meliput kegiatan adik-adik pramuka siaga Gugus Depan 02-129-130 Caritas dari SDK Santa Maria, Jalan Tjilik Riwut, Km 5, Palangka Raya. Pesta siaga 2018 ini di selengarakan oleh Gugus Depan 19-20 Tunjung Nyaho-Rancangan Tjilik Riwut-Nyai Enat Universitas Palangka Raya. (12/04/2018).

Banyak orang yang menganggap pramuka hanya sebatas kemping saja. Orang-orang banyak yang belum tahu tentang kegiatan yang dilakukan oleh seorang anggota pramuka. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan pramuka. Secara umum Pramuka sebagai salah satu kegiatan ektrakulikuler di sekolah sangat relevan sebagai wadah penanaman nilai karakter.

Keterampilan kepramukaan yang dapat membentuk karakter seperti belajar ketrampilan tali temali, belajar keterampilan pertolongan pertama gawat darurat, belajar ketangkasan pionering, belajar keterampilan Mores dan semaphore, belajar keterampilan membanca sandi pramuka, belajar penjelajahan dengan tanda jejak, belajar kegiatan pengembara, belajar keterampilan baris-berbaris, belajar keterampilan menentu arah.

Nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kegiatan kepramukaan seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tau, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab.

Sejak Sekolah Dasar, saya mulai mengenal pramuka, mulai dari pesta siaga hingga kemah di kampung, saya ikuti. Bukankah masa yang lalu sudah berlalu sejak meninggalkan seragam coklat tersebut selepas lulus dari bangku SLTA. Kadang diantara idealisme diri masih terdapat selusin kenangan yang tidak akan bisa diulangi di lain waktu.

Meskipun masa-masa itu sudah berlalu tapi setidaknya saya bisa merasakan perjuangan saya dulu meski hanya untuk melihat adik-adik penerus yang berhasil memenangkan sebuah perlombaan. Bolehlah saya sudah tidak mampu lagi untuk mengulangi masa yang terdahulu tapi setidaknya dengan melihat adik-adik (generasi penerus pramuka) setidaknya ada kepuasan tersendiri yang ada dalam benak saya.

Dalam hati saya masih bisa menerawang jauh, mereka-reka tentang organisasi Kepramukaan selama ini. Organisasi Kepanduan Indonesia yang bernama Gerakan Pramuka dan didirikan pada tahun 1961 ini memang telah banyak sekali menjelajahi pengamalan dalam rangka menjaga mentalitas generasi pemuda-pemudi Indonesia dari bahaya narkoba sampai dengan kenakalan remaja yang lainnya.

Pramuka (Praja Muda Karana) memang cukup tepat sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di setiap sekolah. Karena salah satu sifatnya yang sebagai penyeimbang dan tetap menjaga kebersamaan dengan lingkungan yang menjadi kewajiban untuk dilestarikan.

Namun, lambat laun pikiran ini semakin jauh untuk masuk ke dalam seluk beluk Pramuka ini di tengah-tengah hiruk pikuk modernisasi, globalisasi ataupun bentuk pembaharuan lainnya. Banyak yang mengatakan bahwa Pramuka adalah suatu tindakan yang kuno, dan memang ditujukan bagi aktivis pecinta alam saja.

Setiap orang boleh berpendapat seperti itu, termasuk saya dan Anda, walaupun di dalamnya ada banyak sekali unsur mendidik bagi perkembangan mentalitas dan jiwa serta kegiatan-kegiatan “mendasar” meskipun kita hidup di dunia yang serba modern tapi kadangkala kita harus kembali ke dasar dimana alur modernitas itu diciptakan.

Sampai sekarang ini Pramuka masih memegang “tradisinya” salah satu diantara dengan memasukkan materi Semaphore dan Morse sebagai bagian dari “Kurikulum” Kepramukaan Indonesia. Seperangkat alat komunikasi ini yang terdiri dari sepasang bendera berwarna merah dan kuning (Semaphore), bendera hitam putih, peluit, sinar/cahaya ataupun asap sebagai bagian dari ciri khas Pramuka.

Bandingkan dengan masa sekarang ini, manusia tinggal memencet beberapa nomor untuk bisa mengirim pesan, data ataupun berhubungan dengan orang di seberang Pulau, Gunung ataupun Samudra. Selain efektivitas biaya dan berbagai hal lainnya peralatan modern ini yang kita sebut sebagai Handphone, internet dan peralatan komunikasi lainnya ini memang menjadi andalan untuk melawan berjalannya waktu yang relatif cepat.

Memang tinggal pilih untuk masa yang sekarang ini, apakah meninggalkan tradisi dan ciri khas yang telah dimiliki dalam waktu yang sekian lama agar bisa bersaing di masa yang akan datang ataupun memang harus tetap berpaku pada pola lama dan menolak modernisasi, atau juga sebagai pilihan ketiga menggabungkan kedua-duanya dan bersikap lebih pasif karena pembaharuan yang berjalan secara setengah-setengah.

Memang semuanya menjadi pilihan yang dilematis, dan yang terpenting semuanya kembali kepada efek dan manfaat dari Pramuka itu sendiri. Setiap organisasi tentu ada yang bersikap menginginkan sebuah pembaharuan namun ada juga yang milih sikap lainnya dan kembali ke pokok ajaran lama.

Pramuka tidak hanya mengajarkan bahwa selain kamping juga menjelajahi ataupun mencari jejak dalam suatu wilayah tapi juga mengajarkan prinsip-prinsip survival. Survival yang dimaksud disini bukan saja untuk survival di hutan, sungai ataupun wilayah lainnya. Survival disini juga menyangkut bagaimana ketahanan kita untuk survive pada kondisi perekonomian, politik, dan aspek lainnya di Negara Indonesia ini.

Kita memang boleh bersikap apatis bahwa Pramuka ini lambat laun akan hilang sendirinya seiring dengan perkembangan zaman. Namun kondisi ini bukanlah suatu mutlak yang harus dihadapi oleh generasi pemuda Indonesia ini.

Berbagai terobosan memang beberapa kali digalakkan untuk menjaga survive dari gerakan Pramuka itu sendiri, apakah yang menyangkut eksistensinya dalam menyelenggarakan berbagai Event seperti Jambore, Lomba Tingkat, ataupun berbagai event lainnya dari tingkat yang paling kecil (Gugus Depan) sampai dengan tingkat Internasional.

Suka gak suka inilah Pramuka sebuah Organisasi yang masih mempertahankan ciri khasnya. Seragam Coklat-Coklat pun masih menjadi seragam wajib yang lazim dipakai oleh pelajar Indonesia. Sekalipun kegiatannya masih terbilang kuno bagi pemikiran sebagian Generasi Muda Indonesia namun tetaplah Gerakan Pramuka nyatanya cukup sukses dalam rangka membendung berbagai bentuk tindakan kenakalan remaja yang makin nyaring seiring dengan adanya globalisasi yang melanda dunia.

Hanya memang semuanya berfokus kepada Anda masing-masing, apakah Pramuka ini sampai dengan saat yang akan datang hanya terdiri dari kegiatan yang itu dan itu saja ataukah memang harus dilakukan pembaharuan. Salah satu Hasil pembaharuan itu adalah dilaksanakannya sebuah Jambore yang bisa menggabungkan para anggota Gerakan Kepanduan ini dari seluruh Penjuru Dunia melalui JOTA (Jambore On The Air) ataupun JOTI (Jambore On The Internet). (PjR)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*