Minggu , Maret 29 2020
Home / Berita Terbaru / LAPORAN HASIL MELAKSANAKAN TUGAS KAJI BANDING KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL PENCEGAHAN IMS (INFEKSI MENULAR SEKSUAL) DI KOTA PALANGKA RAYA KE DINAS KESEHATAN KOTA BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PADA TANGGAL 8 S/D 10 OKTOBER 2019
LAPORAN HASIL MELAKSANAKAN TUGAS KAJI BANDING KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL PENCEGAHAN IMS (INFEKSI MENULAR SEKSUAL)  DI KOTA PALANGKA RAYA KE DINAS KESEHATAN KOTA BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT  PADA TANGGAL 8 S/D 10 OKTOBER 2019
FOTO : FERRY(BID.1-BPP/X/2019)

LAPORAN HASIL MELAKSANAKAN TUGAS KAJI BANDING KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL PENCEGAHAN IMS (INFEKSI MENULAR SEKSUAL) DI KOTA PALANGKA RAYA KE DINAS KESEHATAN KOTA BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PADA TANGGAL 8 S/D 10 OKTOBER 2019

LAPORAN HASIL MELAKSANAKAN TUGAS KAJI BANDING
KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL PENCEGAHAN IMS (INFEKSI MENULAR SEKSUAL)
DI KOTA PALANGKA RAYA
KE DINAS KESEHATAN KOTA BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT 
PADA TANGGAL 8 S/D 10 OKTOBER 2019

Kepada Yth. : Plt. ASISTEN EKONOMI PEMBANGUNAN DAN KESRA.
Dari :
1. ENDANG SURIANI,S.E Kepala Bidang Sosial dan Pemerintahan pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Palangka Raya
2. SURYAGUSTINA,S.Kep.,Ners.,M.Kep. Ketua Tim Peneliti LPPM STIKes Eka Harap Kota Palangka Raya, Kajian Pengembangan Model Pencegahan IMS (Infeksi Menular Seksual) di Kota Palangka Raya
3. JAYANI SIMARMATA,S.E. Kepala Sub Bidang Kependudukan dan Pemberdayaan Masyarakat pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Palangka Raya

PENDAHULUAN
Dasar : Surat Tugas dari Sekretaris Daerah Kota Palangka Raya Nomor : 090/68/Sekt-BPP/X/2019, tanggal 1Oktober 2019

Beban Anggaran
1) DPA-SOPD Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Palangka Raya Tahun Anggaran 2019, Kegiatan Pengembangan Sistem Informasi Kelitbangan.
2) Kode Rekening : 4.07.4.07.01.36.24.5.2.2.15.02.

KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN
Dalam upaya optimalisasi Kajian Pengembangan Model Pencegahan Infeksi Menular seksual (IMS) Kota Palangka Raya yang di lakukan oleh tim peneliti dari STIKes Eka Harap Palangka Raya (SURYAGUSTINA), Bekerjasama dengan Pemerintah Kota Palangka Raya melalui SOPD Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Palangka Raya, di dampingi Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Dinas Sosial Kota Palangka Raya, Dinas Pengendalian Penduduk KB Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya melaksanakan Kaji Banding ke Dinas Kesehatan Kota Bandung Provinsi Jawa Barat yang dilaksanakan pada tanggal 8 s/d 10 Oktober 2019.

HASIL YANG DICAPAI
Dengan hasil yang dicapai, menggali program pencegahan HIV dan IMS yang sudah berjalan sesuai dengan program yang telah di rencanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Pemaparan yang disampaikan oleh tim analisis situasi HIV-AIDS  di Kota Bandung antara lain jumlah penduduk 2.507.888 jiwa, 30 kecamatan, 151 kelurahan, 80 Puskesmas, 35 RS, layanan koseling dan tes HIV 84 paskes dan 59 layanan IMS serta layanan perawatan dukungan pengobatan (PDP) 9 RS, PDP satelit, 1 klinik swasta, 3 PKM, dan 3 RS. Layanan komprehensip berkesinambungan merupakan program andalan Dinas Kesehatan Kota Bandung dengan sifat berjenjang antara lain dari RS, Puskesmas, Kader dan CO GF.
Dipaparkan juga terkait penyebaran HIV dan IMS antar populasi beresiko tinggi yaitu dari pelanggan ke penjaja seks laki-laki maupun perempuan, pasangan tetap dan nafza suntik. Diantaranya yang beresiko tinggi yaitu LSL (lelaki sesama lelaki). Infeksi menular seksual (IMS) penularannya terutama melalui hubungan seksual sehingga angka kejadian IMS terus meningkat dan merupakan penyakit yang sulit ditanggulangi. Fenomena HIV-AIDS dan IMS di Masyarakat disebabkan antara lain kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV-AIDS dan IMS, adanya mitos-mitos menyesatkan seperti: minum obat-obatan setelah hubungan seks, membasuh alat kelamin dengan cuka, air soda, alkohol, air jahe dll setelah hubungan seks, mencuci liang senggama dgn memasukan odol, betadin, dan jamu; Kesadaran masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan masih kurang; IMS diobati sendiri dengan antibiotik sehingga menjadi resistensi; stigma dan diskriminasi serta anggapan bahwa upaya penanggulangan HIV-AIDS dan IMS hanya milik instansi atau kelompok tertentu.
Fakta penanggulangan IMS di Kota Bandung : kasus IMS masih terus meningkat, akses kelompok resiko tinggi kelayanan IMS masih rendah, masyarakat umum enggan datang ke layanan IMS karena merasa tidak beresiko, jumlah SDM dan layanan IMS yang memahami tatalaksana IMS sesuai pedoman masih terbatas, kelompok resiko tinggi lebih banyak mengakses layanan IMS tertentu, keterbatasan sarana, dan logistik pelayanan IMS, kampanye kondom oleh petugas pelayanan kesehatan belum optimal, masih banyak masyarakat beresiko mengakses klinik/ bidan/ dokter swasta. Pasien IMS di Faskes layanan IMS di Kota Bandung di mulai dari umur 14 tahun, kasus banyak terjadi pada usia 20-49 tahun yaitu pada usia reproduktif di kota Bandung sangat tinggi.
Strategi pengendalian IMS yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung yaitu: Menurunkan kemungkinan terkena infeksi, jika terpajan dengan cara menurunkan efisiensi penularan perpajanan dengan penapisan rutin; menurunkan pajanan dari orang yg terpajan dengan cara memakai kondom dan intervensi perubahan perilaku; menurunkan durasi infektifitas (memotong rantai penularan dan mencegah komplikasi) dengan deteksi dini (pencarian kasus, pengobatan yang efektif dan benar).
Strategi pencegahan dan penanggulangan IMS di Kota Bandung antara lain deteksi dan pengobatan IMS sedini mungkin, penguatan sistem rujukan antar layanan, LSM dan kader, pemberdayaan masyarakat, koordinasi lintas sektor dan peningkatan peran positif pemangku kepentingan, komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan populasi kunci serta manajemen pasokan sarana dan logistik termasuk kondom dan pelicin.
Program pencegahan dan pengendalian IMS & HIV di Kota Bandung dimana Wali Kota sekalu ketua Komisi penanggulangan AIDS Kota Bandung sebagai koordinator sekaligus pemimpin dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS di Kota Bandung telah melakukan beberapa program di antaranya :
Menciptakan situasi lingkungan yang kondusif dengan adanya dukungan kebijakan; peningkatan kapasitas HIV-AIDS dan IMS kepada seluruh jajaran birokrasi; memberdayakan semua sumber daya yang ada yaitu LSM perduli AIDS, warga masyarakat swasta dan organisasi kemasyarakatan dalam upaya program penanggulangan HIV-AIDS & IMS; penyebaran informasi HIV-AIDS & IMS secara komprehensif kepada usia 15-24 tahun untuk mencapai goal SDGS; membuka layanan IMS, tes HIV-AIDS, dukungan, perawatan dan pengobatan di tingkat primer, sekunder dan tersier; integrasi program HIV dan program lainnya yaitu Harm Reduction (Napza), HEBAT (UKS), lolipop (Remaja) PPIA/ pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (KIA); program mitigasi dampak dengan memberikan dukungan kepada kelompok beresiko.
Hasil program yang sudah diperoleh yaitu: terbitnya peraturan daerah No. 12 thn 2015 tentang pencegahan penyalahgunaan Napza dan penanggulangan HIV-AIDS; peran serta untuk P2HIV & IMS dan pengurangan stigma diskriminasi terhadap ODHA di perangkat daerah yang memiliki program sesuai dengan tupoksinya; koordinasi yang baik antara LSM, layanan kesehatan, layanan sosial, sehingga terjadi hubungan yang harmonis diantara pelaksana program HIV-AIDS & IMS; pelaksanaan program Harm Reduction (pengurangan dampak buruk narkoba) di 16 Puskesmas dan dikembangkan pula Drop in Center untuk menciptakan lingkungan kondusif melalui penguatan warga perduli AIDS, sehingga klien mudah mengakses layanan; pelaksanaan program HEBAT (Sehat Bersama Sahabat) di 40 SMP jumlah remaja pelajar yang mengikuti program HEBAT yaitu sebanyak 81.667 orang (75%); tersedianya layanan HIV dan IMS yang mudah di akses secara geografis dan ekonomis bagi ODHA tanpa stigma dan diskriminasi dan layanan ramah remaja populasi kunci di 8 Puskesmas, 1 klinik swasta dan 4 RS; untuk memudahkan akses pelayanan ARV selain di RS, bisa diakses di 3 puskesmas, 1 klinik swasta; terintegrasinya program-program KIA, Napza, TB, remaja, UKS dengan program HIV & IMS; kasus HIV-AIDS ditemukan sejak dini sehingga cepat mendapatkan layanan dan berdampak pada penurunan angka kasus dari 30% Kematian karena HIV-AIDS menjadi 10%; meningkatkan kualitas hidup ODHA sehingga berdaya secara ekonomi dalam lingkungan yang bebas stigma dan diskriminasi; program mitigasi dampak yaitu bantuan susu untuk anak ODHA (70 org) bekerja sama dengan Frisian Flag Indonesia, dukungan untuk ODHA tidak mampu bekerjasama dengan Baznas dan Dinsos.
Pembubaran lokalisasi di Kota Bandung dilakukan pada tahun 2007 dengan berbagai tahap antara lain pertemuan dengan tokoh masyarakat, pemuka agama, tenga kesehatan dan lintas sektoral, edukasi kepada seluruh masyarakat dan terbentuknya Perda Kota Bandung terkait pencegahan Napza dan penanggulangan HIV-AIDS dan IMS.

PENUTUP
Demikian laporan melaksanakan tugas Kaji Banding Kajian Pengembangan Model Pencegahan IMS (Infeksi Menular Seksual) di Kota Palangka Raya ke Dinas Kesehatan Kota Bandung Provinsi Jawa Barat, yang dilaksanakan pada tanggal 8 s/d 10 Oktober 2019, semoga bermanfaat dan diucapkan terima kasih.

Palangka Raya,   Oktober 2019
Yang Membuat Laporan,

1. ENDANG SURIANI,S.E
NIP.19650927 199503 2 001
2. SURYAGUSTINA,S.Kep.,Ners.,M.Kep.
NIDN. 1108088802
3. JAYANI SIMARMATA,S.E.
NIP. 19661005 199303 2 013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*