Sabtu , Maret 28 2020
Home / Serba-Serbi / Kajian Pengembangan Model Pencegahan IMS (Infeksi Menular Seksual) Di Kota Palangka Raya Tahun 2019
Kajian Pengembangan Model Pencegahan IMS (Infeksi Menular  Seksual) Di Kota Palangka Raya Tahun 2019
(Ferry/Bid.I/2019)

Kajian Pengembangan Model Pencegahan IMS (Infeksi Menular Seksual) Di Kota Palangka Raya Tahun 2019

          Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu penyebab permasalahan kesehatan, sosial dan ekonomi dibanyak negara (Kemenkes RI, 2015). Menurut WHO IMS adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual baik secara vaginal, anal dan oral. IMS disebabkan oleh mikroorganisme lebih dari 30 bakteri, virus, parasit, jamur yang berbeda dimana dapat ditularkan melalui kontak seksual dan kebanyakan infeksi ini bersifat asimtomatik atau tidak menunjukkan gejalanya sama sekali. IMS dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan penyembuhannya yaitu yang dapat disembuhkan seperti sifilis, gonore, klamidia, dan trikomoniasis serta yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat diringankan melalui pengobatan seperti hepatitis B, herpes, human immunodeficiency virus/HIV, dan human papiloma virus/HPV (Puspita, 2017:32).

         Di negara berkembang, IMS dan komplikasinya menjadi urutan nomor lima penyakit yang menyebabkan orang dewasa berobat ke pusat kesehatan. Salah satu penyebabnya adalah transaksi seks dan tingkat pengetahuan yang rendah. Berdasarkan fenomena yang ditemukan peneliti ditempat penelitian yaitu banyak yang tidak mengetahui tentang infeksi menular seksual (IMS), beberapa hanya mengetahui sebagian tetapi belum mengerti cara pencegahan dan hanya sering mendengar tentang HIV-AIDS.

          Berdasarkan data laporan tahunan Sexually Transmitted Disease Surveillance yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (2016) di Amerika Serikat jumlah kasus IMS meningkat mencapai rekor tertinggi, ada lebih dari dua juta kasus klamidia, gonore dan sifilis. Kasus infeksi klamidia 1,6 juta, kasus gonore meningkat diantara pria dan wanita namun kenaikan paling drastis terjadi pada pria sebanyak 22%, sementara kasus sifilis berjumlah 28.000 angka tersebut meningkat 18% dari tahun 2015 sampai 2016. Di Indonesia jumlah kasus IMS untuk kandidiasis 139 kasus, herpes simplex 3 kasus, kasus IMS merupakan salah satu pintu masuk atau tanda-tanda adanya HIV (Kemenkes, 2016). Data Kemenkes 2016 pada kasus human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dari bulan Januari sampai Maret 2016 kasus infeksi HIV 7.146 kasus. Sedangkan kasus AIDS menurun dari 5.231 kasus pada tahun 2005 menjadi 305 kasus pada tahun 2016. Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah jumlah kasus IMS pada tahun 2016 mencapai 42 kasus dan 109 kasus HIV-AIDS. Di Kota Palangka Raya dilaporkan penderita IMS sebanyak 13 kasus, sedangkan penderita HIV-AIDS dilaporkan 20 kasus (Dinkes Provinsi Kalteng, 2016).

          Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas Pengembangan Model Pencegahan IMS (Infeksi Menular  Seksual) Di Kota Palangka Raya, sedangkan Tujuan Kegiatan ini adalah :
1. Mengidentifikasi pengetahuan masyarakat tentang IMS sebelum diberikan intervensi di Kota Palangka Raya;
2. Mengidentifikasi pengetahuan masyarakat tentang IMS setelah diberikan intervensi di Kota Palangka Raya;
3. Menganalisis efektifitas pengembangan model pencegahan IMS di Kota Palangka Raya;
4. Mencegah penularan Infeksi Menular Seksual di kalangan masyarakat Kota Palangka Raya.

          Hasil kajian adalah menemukan metode yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk pencegahan Infeksi Menular Sesksual di Kota Palangka Raya, Manfaat kajian ini adalah rekomendasi kepada Pemerintah Kota Palangka Raya dalam mencegah penyebaran Infeksi Menular Seksual di kota Palangka Raya, Dampak dari hasil kajian ini adalah meningkatkan derajat kesehatan reproduksi bagi masyarakat sehingga meningkatkan produktifitas SDM. Ruang lingkup wilayah kajian adalah seluruh Puskesmas di Kota Palangka Raya dan Wilayah Lokalisasi, meliputi aspek kesehatan, interaksi sosial, warisan budaya, nilai-nilai budaya, serta memformulasikan metode yang efektif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

         Pada penelitian ini data terkumpul kemudian dilakukan tabulasi data, dan analisa data dengan menggunakan uji statistik Wilcoxon dengan derajat kemaknaan p= < 0.05. Teknik ini merupakan penyempurnaan dari uji tanda  (sign test). Dalam uji tanda, teknik ini digunakan untuk menguji signifikasi komparatif dua sampel yang berkolerasi bila datanya berbentuk ordinal (Sugiyono, 2007). Uji perangkat bertanda Wilcoxon digunakan untuk menganalisa hasil-hasil pengamatan yang berpasangan dari dua data apakah berbeda atau tidak. Adapun langkah-langkah uji Wilcoxon Sign Rank menggunakan SPSS yaitu sebagai berikut: pertama-tama buka file, kemudian klik analyze; pilih nonparametric test, kemudian klik 2 related samples (muncul two related samples test) pada test pair (s) isikan variabel-variabel sebelum dan sesudah perlakuan; pada test type pilih Wilcoxon, klik option pilih descriptive, klik continue, klik ok, muncul output.

          Keluaran dari hasil peneilitian ini adalah dokumen Kajian metode yang efektif dalam upaya pencegahan Infeksi Menular Seksual sehingga meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Palangka Raya.(Ferry/Bid.I/2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*