Rabu , November 25 2020
Home / Pengembangan / Jelajah Hutan dan Sungai Bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” Di Kalimantan Tengah
Jelajah Hutan dan Sungai Bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” Di Kalimantan Tengah

Jelajah Hutan dan Sungai Bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” Di Kalimantan Tengah

Palangka Raya,–Lutung merah di Kalimantan selama ini diketahui sudah sulit sekali ditemukan. Tapi secara tak sengaja, organisasi lingkungan Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) dan Balai Wilayah Sungai II melihatnya saat melakukan penjelajahan hutan, baru-baru ini.

“Secara tak sengaja, kami menemukan lutung merah saat mereka berada persis di jalan yang kita lalui,” kata Ketua Melingai Ferry F Hoesien, seperti dilansir Antara, di Banjarmasin, Rabu (20/9).

Kegiatan jelajah hutan dan sungai bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” tersebut sekaligus untuk melakukan pengukuran kualitas air terhadap beberapa sungai yang termasuk bagian dari aliran Sungai Barito, dan melihat secara langsung kawasan hutan di wilayah ini.

Ekspedisi itu sendiri berlangsung mulai Jumat (15/9) hingga Senin malam (18/9) diikuti oleh delapan anggota tim yang bertugas melakukan pengukuran kualitas air dan pengamatan terhadap kondisi hutan, sungai secara ekologi maupun morfologinya.

Mereka bertemu lutung merah pada hari terakhir perjalanan antara Puruk Cahu ke Kurun di Provinsi Kalimantan Tengah.

“Hampir saja tertabrak primata unik tersebut, untung saja sopir rombongan tim sempat mengerem sehingga mereka juga lari tunggang langgang ke dalam hutan,” kata Ferry, yang juga dikenal sebagai pembina Sahabat Bekantan Indonesia.

Menurut pemerhati hewan langka ini, lutung merah mulai terancam keberadaannya karena populasinya yang tinggal sedikit.

Lutung merah atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dayak di pedalaman Kalteng dengan sebutan “Kelasi” ini, adalah merupakan salah satu primata yang unik dan eksotik yang dapat dijumpai di kawasan hutan primer serta hutan sekuder pulau ini, terutama sepanjang hutan di deretan pegunungan Muller – Schwaner yang membentang dari Kalimantan Tengah – Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur serta sebagian persebaran juga terdapat di kawasan hutan Meratus, Kalimantan Selatan.

Lutung merah dalam bahasa ilmiahnya disebut Presbytis rubicunda adalah spesies primata di dalam keluarga Cercopithecidae. Memiliki bulu berwarna kemerahan dan memiliki wajah berulas kebiruan, memiliki jambul pendek sedikit berdiri.

Uniknya bayi lutung merah berwarna putih dan sebagian tubuhnya terdapat bercak hitam. Warna tersebut akan berubah menjadi merah seiring usianya beranjak dewasa. 

Seperti jenis primata lainnya, lutung merah hidup berkelompok antara 7-8 ekor dengan dipimpin satu ekor jantan. Sepanjang hari, lutung merah biasanya beraktivitas dan aktif di siang hari atau satwa diurnal.

Presbytis rubicunda ini dibedakan menjadi 4 subspesies dengan warna rambutnya khas. Pertama, Presbytis rubicunda rubicunda, yang berwarna kemerahan dan semakin kehitaman ke arah bawah bibir. Mereka banyak dijumpai di sebagian besar Kalimantan. 

Kedua, Presbytis rubicunda rubida. Warnanya hampir sama dengan Presbytis rubicunda rubicunda, hanya sedikit berbeda dari bentuk kepalanya dan tersebar di wilayah Kalimantan Selatan.

Ketiga, Presbytis rubicunda ignita, juga dibedakan dari ukuran kepalanya. Subspesies ini tersebar di bagian barat laut Kalimantan. 

Sedangkan yang keempat adalah Presbytis rubicunda chrysea, yang terbatas hanya di Pulau Karimatan dan Kalimantan Barat dengan warna coklat emas kepucatan. 

Pada Ekspedisi Susur Sungai DAS Barito 15-19 September 2017, tim menemukan beberapa kelompok kawanan Lutung merah di sepanjang perjalanan antara Puruk Cahu kabupaten Murung Raya ke Kuala Kurun kabupaten Gunung Mas melalui sungai Hanyu Kalimantan Tengah.

Keberadaan lutung merah cukup memprihatinkan, karena berada di kawasan yang habitatnya tertekan oleh pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit serta pertambangan batu bara, belum lagi aktivitas pembukaan lahan untuk pertanian masyarakat.

Pengurangan habitatnya terjadi terus menerus, sehingga primata ini kehilangan habitatnya mencapai 36 persen dari luas sekitar 415.000 km2, menjadi 266.000 km2 dan sisanya hanya menempati kawasan konservasi seluas kurang lebih 19.670 km2 saja.
 
Menurut Ferry kondisi ini tentu sangat mengancam keberadaan Lutung merah, walau ia telah dilindungi oleh peraturan dan perundangan. Namun alih fungsi lahan yang cukup masif, merusak sebagian besar habitatnya. Akibatnya lutung merah mulai nampak keberadaannya di sekitar pemukiman dan perkebunan warga yang rawan konflik, sehingga sering diburu, karena dianggap hama oleh warga di sekitarnya.

Sementara itu, perlindungan lutung merah di Indonesia mengacu pada UU no 5 tahun 1990, tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2. yang menyatakan dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memelihara, mengangkut, dan meniagakan atau memperjualbelikan satwa dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati, tertuang dalam (Pasal 21 ayat 2).

Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran sebagaimana ketentuan dimaksud akan dikenakan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah (pasal 40 ayat 2).

Dalam Perundang-undangan Indonesia, lutung merah juga dilindungi berdasarkan SK Mentan No. 247/Kpts/Um/4/1979 dan Peraturan Pemerintah no. 7 tahun 1999. “Hanya saja sayangnya meskipun tingkat keterancamannya tinggi, lembaga konservasi internasional IUCN (International Union Conservation Nature), menempatkan Lutung merah masih dimasukkan ke dalam daftar risiko rendah (Lower Risk/least concern-LR/lc atau Apendiks II), padahal keberadaannya di alam liar sudah cukup meprihatinkan,” kata Ferry. (PjR/cnnindonesia.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*