Senin , Agustus 10 2020
Home / Serba-Serbi / Inovasi Mahasiswa Teknik Elektro Surabaya Ubah Panas Kompor Jadi Energi Listrik
Inovasi Mahasiswa Teknik Elektro Surabaya Ubah Panas Kompor Jadi Energi Listrik
Fhoto : Dok. Untag

Inovasi Mahasiswa Teknik Elektro Surabaya Ubah Panas Kompor Jadi Energi Listrik

Surabaya – Panas yang dihasilkan kompor tidak hanya pada ujung nyala api, tetapi juga pada lingkungan sekitarnya. Tentunya panas tersebut bisa menjadi sumber energi jika dikelola dengan baik, apalagi sebelumnya terdapat tungku arang yang bisa dijadikan sumber energi listrik.

Ditangan seorang mahasiswa, fungsi kompor yang semula hanya untuk memasak berubah sebagai alat pembangkit listrik. Hal itulah yang menginspirasi, mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya dialah Didit Triwidodok yang memiliki ide inovasi untuk menciptakan kompor penghasil listrik.

Menggunakan teknologi termoelektrik, Didik menempatkan penyalur tegangan listrik pada rongga kompor. Untuk bisa menghasilkan tegangan listrik, Didik harus menciptakan perbedaan suhu yang tinggi antara panas dan dingin. Sehingga ia memanfaatkan air es untuk dialirkan pada sisa luar kompor.

“Energi listrik yang disimpan ini bisa digunakan saat listrik padam. Kompor ini memiliki thermo electric, yakni sebuah media penghasil listrik yang dapat menghasilkan suhu dingin jika kedua terminal atau kabelnya dihubungkan dengan sumber tegangan DC,” ujar Didit seperti dilansir dari laman Untag, Rabu (20/9/2017).

Didit menjelaskan, thermo elektrik biasanya dipakai pada kulkas portable, dispenser mini dan pendingin CPU. Electric Stove hanya menggunakan thermo elektrik sebagai generator, dengan cara memberikan temperatur atau suhu panas pada salah satu sisi sedangkan pada sisi yang lain akan didinginkan.

Menurutnya, energi listrik yang dihasilkan dari kompor ini berupa tegangan DC sebesar 10-14 Volt, dengan arus 2-4 Ampere.

“Tergantung perbedaaan temperature yang diterima oleh komponen thermo electric. Semakin besar selisih suhu antar kedua sisi lempengan thermo electric maka semakin besar pula daya yang dihasilkan,” ujarnya.

Foto : Dok. Untag

Cara kerja kompor ini sangatlah sederhana. Seperti kompor pada umummnya, namun setelah kompor dihidupkan lempeng sisi panas thermo electric akan menyerap panas dari kompor dan akan di buang melalui sisi yang lainnya dari proses tersebut maka akan timbul tegangan dari kedua ujung kabelnya.

“Tegangan tersebut akan masuk pada rangkaian boost conventer DC untuk dinaikkan tegangannya menjadi 13,8 Volt. Hal ini dimaksudkan supaya bila terjadi drop tegangan pada sisi thermo electric maka diharapkan rangkaian boost conveter ini tetap mampu menyuplai kebutuhan inventer yang memiliki tegangan kerja 10,5 Volt sampai 15 Volt, maksimal menghasilkan daya listrik sebesar 43 Watt atau setara dengan 5 lampu LED,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa tegangan dari boost conventer ini selanjutnya akan masuk pada rangkaian inventer untuk dinaikkan dan dirubah tegangannya dari 13,8 DC menjadi 220 Volt AC agar dapat digunakan untuk mensuplay beban/ peralatan listrik yang ada disekitar.

Dosen Pembimbing Didit, Aris Heri Andriawan mengungkapkan, inovasi yang dilakukan Didit bisa dimanfaatkan dari skala rumah tangga hingga industri. Sebab inovasinya mampu memanfaatkan sumber energi yang terbuang.

”Sekecil apapun penggunaan listrik harus mulai dihemat, jadi inovasi sebagai sumber listrik alternatif ini cukup menarik,” tambah Aris, (PjR/surya.co.id/okezone.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*