Jumat , September 25 2020
Home / Berita Terbaru / Hasil Riset Terbaru, Pakar Psikiatri dari University of California di San Diego, Amerika Serikat, Temukan Salah Satu Penyebab Insomnia
Hasil Riset Terbaru, Pakar Psikiatri dari University of California di San Diego, Amerika Serikat, Temukan Salah Satu Penyebab Insomnia
Ilustrasi insomnia. shutterstock.com

Hasil Riset Terbaru, Pakar Psikiatri dari University of California di San Diego, Amerika Serikat, Temukan Salah Satu Penyebab Insomnia

Insomnia menjadi masalah besar bagi banyak orang. Tak sedikit penderitanya yang mendapat bonusnya berupa komplikasi psikologis, seperti depresi. Bahkan, menurut studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Psychiatry edisi 8 Maret 2018, banyak yang berujung pada diabetes tipe 2. Studi berjudul “Genome-wide Analysis of Insomnia Disorder” itu menyatakan alasan utama insomnia adalah genetika.

Penelitian yang dipimpin Murray Stein, pakar psikiatri dari University of California di San Diego, Amerika Serikat, ini memperkuat studi sebelumnya yang terbit dalam jurnal Cell edisi 6 April 2017. Dalam riset itu, tim ilmuwan gabungan Amerika-Turki menyatakan bahwa gen CRY1-gen yang bertanggung jawab atas jam sirkadian-bermutasi. Jam sirkadian adalah proses biologis yang berpatokan pada siklus 24 jam atau siklus pagi-malam yang mempengaruhi sistem fungsional tubuh manusia.

Penyebabnya belum diketahui. Namun, imbasnya jelas, sekelompok orang tersebut mengalami gangguan fase tidur tertunda. Orang dengan gen CRY1 yang bermutasi akan memiliki jam sirkadian yang berjalan lebih lama. Jadi, tidur dan bangun kembali lebih telat ketimbang orang dengan gen yang tidak bermutasi.

Insomnia atau sulit tidur memang memiliki efek buruk pada tubuh seseorang. Dari menurunkan tekanan darah hingga berbagai masalah kesehatan jangka panjang, seperti serangan jantung dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Dalam studi terbaru, Stein dan tim mulai melihat varian gen spesifik yang bertanggung jawab atas insomnia. “Kami menganalisis gen-gen yang berhubungan dengan insomnia,” kata Stein, seperti dilansir dari laman Science Daily. Mereka melihat sampel DNA dari 33 ribu tentara angkatan darat Amerika yang masuk dalam program Army Study to Assess Risk and Resilience in Service members (STARSS).

Tim memisahkan data gen tentara keturunan Eropa, Afrika, dan Latin agar bisa mengidentifikasi garis keturunan leluhur yang lebih spesifik. Stein dan tim juga membandingkan hasil mereka dengan dua penelitian terbaru yang menggunakan data dari Biobank Inggris.

Hasilnya, studi ini kian menegaskan peran genetika dalam insomnia. Selain itu, terdapat hubungan genetik yang kuat antara insomnia dan diabetes tipe 2. Di antara peserta keturunan Eropa, bahkan, insomnia juga menyebabkan depresi berat.

“Korelasi ini menunjukkan bahwa insomnia, diabetes tipe 2, dan depresi berat memiliki hubungan genetika yang sama dalam fenotipe,” kata Stein dan tim dalam jurnal. Fenotipe adalah suatu karakteristik (baik struktural, biokimiawi, fisiologis, maupun perilaku) yang dapat diamati dari suatu organisme. Pengertian fenotipe mencakup berbagai tingkat dalam ekspresi gen dari suatu organisme.

Kalau dalam studi 2017 terungkap ada gen CRY1 bermutasi, Stein dan tim melihat varian spesifik pada kromosom 7. Kromosom ini sangat erat hubungannya dengan gen AUTS2, yang bisa memberi informasi soal konsumsi alkohol, perkembangan otak, dan sinyal listrik yang berhubungan dengan tidur.

Stein menegaskan, penelitian tentang insomnia penting karena komplikasinya bisa menyebabkan risiko genetik yang terkait dengan gangguan kejiwaan dan penyakit metabolik. Dia dan tim menyarankan penderita Insomnia untuk tidur tak terlalu larut dan bangun pada pagi hari; menghindari lampu terang, termasuk cahaya laptop dan ponsel, sebelum tidur; dan tak lupa berjemur pada pagi hari. (PjR/tempo.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*