Rabu , November 25 2020
Home / Artikel / EXECUTIVE SUMMARY KAJIAN KONSEP PENGEMBANGAN SMART CITY KOTA PALANGKA RAYA BERBASISKAN KEARIFAN LOKAL
EXECUTIVE SUMMARY KAJIAN KONSEP PENGEMBANGAN SMART CITY KOTA PALANGKA RAYA BERBASISKAN KEARIFAN LOKAL
FOTO : FERRY (Bid.1-BPP/VIII/2019)

EXECUTIVE SUMMARY KAJIAN KONSEP PENGEMBANGAN SMART CITY KOTA PALANGKA RAYA BERBASISKAN KEARIFAN LOKAL

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT (LPPM) UNIVERSITAS PALANGKA RAYA BEKERJASAMA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (BALITBANG) KOTA PALANGKA RAYA

EXECUTIVE SUMMARY KAJIAN KONSEP PENGEMBANGAN SMART CITY KOTA PALANGKA RAYA BERBASISKAN KEARIFAN LOKAL

LATAR BELAKANG
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berjalan dinamis seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat dalam menggunakan jasa layanan telekomunikasi. Dari feature phone ke smartphone. Dari teknologi seluler 2G ke 3G hingga saat ini kita memasuki era 4G. Dari layanan internet yang lambat menuju ke layanan internet yang cepat (broadband). Perubahan gaya hidup ini memacu kota-kota di seluruh dunia untuk  meningkatkan standar dan kualitas yang baik di berbagai sektor kegiatan serta kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan kombinasi antara perencanaan kota, peningkatan kualitas tata pemerintahan, teknologi yang inovatif, masyarakat yang lebih sejahtera dan bisnis yang berkembang untuk menghasilkan apa yang dikenal sebagai Smart City
Konsep smart city merupakan perluasan dari program e-government yang mana memanfaatkan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) dalam pelayanan publik. Para ahli mendefinisikan konsep Smart City dalam beberapa hal :

  1. Pratama (2014) menjelaskan bahwa Smart City atau kota cerdas, merupakan suatu konsep pengembangan, penerapan, dan implementasi teknologi yang diterapkan di suatu daerah sebagai sebuah interaksi yang kompleks di antara berbagai sistem yang ada di dalamnya. Tujuan dari pendekatan Smart City adalah untuk mencapai informasi dan pengelolaan kota yang terintegrasi. Integrasi ini dapat melalui manajemen jaringan digital geografi perkotaan, sumber daya, lingkungan, ekonomi, sosial dan lainnya.
  2. Cohen (2012), mendefinisikan Smart City sebagai sebuah pendekatan yang luas, terintegrasi dalam meningkatkan efisiensi pengoperasian sebuah kota, meningkatkan kualitas hidup penduduknya dan menumbuhkan ekonomi daerahnya. Selain itu, Cohen lebih mendifinisikan Smart City dengan pembobotan dari aspek lingkungan menjadi : Smart Citymenggunakan ICT secara pintar dan efisien dalam menggunakan berbagai sumber daya, menghasilkan penghematan biaya dan energi, meningkatkan pelayanan dan kualitas hidup, serta mengurangi degradasi lingkungan yang nantinya berujung ke dalam inovasi dan ekonomi ramah lingkungan
  3. Giffinger & Gudrun (2010)mendefinisikan Smart City sebagai kota dengan investasi yang dimiliki, yakni terdiri dari modal manusia dan sosial, transportasi dan infrastruktur komunikasi modern serta pembangunan ekonomi yang continue dan kualitas hidup yang tinggi, dengan manajemen sumberdaya alam yang bijaksana melalui tata pemerintahan yang partisipatif.
  4. Harrison et al., (2010) dalam sebuah dokumen milik IBM menyatakan bahwa smart city adalah sebuah kota yang instrumennya saling berhubungan dan berfungsi cerdas dan menggunakan teknologi informasi (TI) untuk menjalankan roda kehidupan kota yang lebih efisien. Pada awalnya IBM membuat 6 (enam) indikator yang harus dicapai. Keenam indikator tersebut adalah: (1) masyarakat penghuni kota, (2) lingkungan, (3) prasarana, (4) ekonomi, (5) mobilitas, serta (6) konsep smart living.

Tren gerakan pembangunan kota atau daerah berbasis Smart City bisa kita saksikan di berbagai belahan dunia seperti Barcelona, Tokyo, London, Berlin, Amsterdam, Melbourne, Seoul, Shanghai, Mumbai, Singapura dan lain-lain. Di setiap kota di berbagai belahan dunia tersebut memiliki kisah sukses pembangunan Smart City yang berbeda-beda sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh setiap kota. Di Korea, sebuah kawasan reklamasi seluas 600 hektar dibangun dari nol sebagai sebuah Smart City, di Dubai menjadikan Masdar sebagai kota yang membangun program kemandirian energi dengan energi surya dan terbarukan serta bertekad menjadi kota yang bebas emisi karbon, Amsterdam fokus pada pembangunan Smart People, Smart Energy, dan Smart Waste Management. Di Singapura, pembangunan Smart City langsung dikendalikan di bawah Prime Minister Office sebagai sebuah program untuk warga, pebisnis, dan pemerintah untuk mendukung peningkatan kualitas hidup dengan memanfaatkan teknologi, ide, aplikasi, dan big data.
Proses pembangunan Smart City merupakan usaha yang memerlukan waktu dan tidak seketika. Diperlukan komitmen dan perencanaan yang matang serta menyeluruh. Pada tahap-tahap tertentu, usaha pembangunan Smart City juga perlu melibatkan semua pihak di tingkat daerah maupun di tingkat pusat, baik dari pihak warga, pemerintah maupun swasta. Selain untuk mewujudkan terciptanya sinkronisasi, hal ini juga dimaksudkan untuk menyamakan (alignment) pemahaman akan visi, misi, dan mempertemukan kepentingan yang berbeda dari setiap pihak serta menumbuhkan rasa kepemilikan (sense of belonging) atas rencana pembangunan Smart City yang diinisiasi. Dengan kata lain pembangunan Smart City merupakan usaha yang kontinyu, bertahap, dan bersifat multi sektoral oleh karena itu diperlukan sebuah perencanaan berjangka waktu dan terintegrasi yang dituangkan dalam bentuk dokumen.
Kota Palangka Raya merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Tengah, yang secara geografis terletak pada 113˚30` – 114˚07` Bujur Timur dan 1˚35` – 2˚24` Lintang Selatan. Wilayah Kota Palangka Raya terdiri dari 5 (lima) Kecamatan yaitu: Kecamatan Pahandut dengan luas wilayah 119,41 Km2, Kecamatan Sabangau dengan luas wilayah 641,47 Km2, Kecamatan Jekan Raya dengan luas wilayah 387,53 Km2, Kecamatan Bukit Batu dengan luas wilayah 603,16 Km2 dan Kecamatan Rakumpit dengan dengan luas wilayah 1.101,95 Km2.  Visi Kota Palangka Raya dalam RPJMD Kota Palangka Raya untuk periode tahun 2018-2023 yaitu “TERWUJUDNYA KOTA PALANGKA RAYA MENJADI KOTA YANG MAJU, RUKUN, DAN SEJAHTERA UNTUK SEMUA”. Visi ini adalah menjadi kota yang teridentifikasi dalam 8 (delapan) aspek kunci untuk menjadi kota yang cerdas (Smart City) dalam aspek: pemerintahan, energi, bangunan, mobilitas, infrastruktur, teknologi, pendidikan, dan kesehatan.

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud Kegiatan
Maksud dari kegiatan Kajian Konsep Pengembangan Smart City di Kota Palangka Raya adalah untuk menyediakan arah kebijakan pengembangan Smart City yang sesuai dengan kearifan lokal yang ada di Kota Palangka Raya dan sesuai dengan visi misi Walikota Kota Palangka Raya untuk mewujudkankota Palangka Raya sebagai  Kota Kreatif (Creative City), Kota Cerdas (Smart City) dan Kota Hijau (Green City).

Tujuan Kegiatan

  1. Mengidentifikasi kebijakan dan peran pemerintah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di wilayah Kota Palangka Raya
  2. Mengidentifikasi kondisi eksisting infrastruktur, sumber daya manusia dan kearifan lokal dapat dipergunakan untuk mewujudkan pembangunan Smart City di Kota Palangka Raya.
  3. Melakukan analisa terhadap kondisi eksiting dan kondisi ideal yang dapat diterapkan di Kota Palangka Raya guna mewujudkan pembangunan Smart City.
  4. Menyelaraskan penerapan Smart City dengan business process pemerintah kota, SOPD lainnya dan instansi terkait serta dapat berakselerasi dalam percepatan transformasi birokrasi
  5. Menyusun perencanaan arsitektur Smart City yang berbasis kearifan lokal yang bisa diterapkan di Kota Palangka Raya dan perencaaan roadmap program kerja 5 tahun guna mendukung penyusunan anggaran APBD.

HASIL, MANFAAT DAN DAMPAK

Hasil (Output)

  1. Hasil kajian ini adalah terpetakannya potensi TIK, sumber daya manusia, sumber daya alam dan sosial budaya di Kota Palangka Raya yang menunjang terwujudnya pembangunan Smart City.
  2. Terdokumentasinya rencana kegiatan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang serta kebijakan dan strategi dalam mendukung pengembangan desain Smart City di Kota Palangka Raya.
  3. Terdokumentasinya kearifan lokal (local knowledge) masyarakat Dayak dalam dimensi Smart City.

Manfaat kajian ini adalah :

  1. Rekomendasi kepada Pemerintah Kota Palangka Raya dalam merencanakan pembangunan Smart City di Kota Palangka Raya.
  2. Kerangka Acuan dalam pengembangan kota Palangka Raya yang berbasis pada keunggulan dan dimensi sosial budaya.

Dampak (outcome) dari hasil kajian ini adalah :

  1. Terciptanya peningkatan kinerja Pemerintah Kota dalam pelayanan public kepada masyarakat dan menciptakan lingkungan pemerintahan yang lebih baik.
  2. Pengelolaan potensi Kota Palangka Raya dan SDM yang lebih terarah menuju Smart City.

RUANG LINGKUP KEGIATAN
Ruang Lingkup kegiatan meliputi 6 (enam) dimensi Smart City yang diambil dari buku panduan penyusunan masterplan Smart City – Gerakan Menuju 100 Smart City Nasional sebagai dasar dari penerapan Smart city (lihat Gambar 1).
Dimensi Smart Governance
Dimensi Smart Branding
Dimensi Smart Economy
Dimensi Smart Living
Dimensi Smart Society
Dimensi Smart Environment

Gambar 1. Dimensi Smart City. Sumber: (CCSN, 2012)

Gambar 1. Dimensi Smart City. Sumber: (CCSN, 2012)

METODOLOGI PENELITIAN
Kajian Konsep Pengembangan Smart City di Kota Palangka Raya menggunakan pendekatan mixed method atau merupakan kombinasi pendekatan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dengan menggunakan pendekatan mixed method diharapkan dapat memaksimalkan manfaat dari pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta dapat menghasilkan pemahaman yang lebih baik terhadap topik penelitian (Halcomb & Hickman, 2015). Didalam kajian ini, dengan menggunakan pendekatan mixed method diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih terintegrasi dan comprehensive akan dimensi Smart City yang diperlukan untuk mewujudkan pelaksanaan Smart City berbasis kearifan lokal di Kota Palangka Raya.

PENDEKATAN KAJIAN KUANTITATIF
Penelitian dengan pendekatan kuantitatif melibatkan pengumpulan dan analisis numerik data (Hayes, Bonner, & Douglas, 2013). Dalam kajian ini pengumpulan data dilaksanakan dengan melakukan penyebaran angket/kuesioner untuk memperoleh gambaran kondisi eksisting pemanfaatan TIK, kepuasan masyarakat akan pelayanan publik and menilai antusia masyarakat dalam perwujudan Smart City di kota Palangka Raya. Data dihimpun dengan menggunakan instrumen (angket) yang disebarluaskan di 3 kecamatan secara Random Sampling. Dalam Random Sampling, setiap elemen dalam populasi mendapatkan kesempatan yang sama untuk menadi sampel (Alvi, 2016). Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi sampel adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sifat suatu kelompok yang lebih besar atau bagian kecil yang mewakili kelompok atau keseluruhan yang lebih besar. Sampel sebagai bagian dari populasi memberikan gambaran yang benar tentang populasi. Pengambilan sampel dari suatu populasi disebut penarikan sampel atau sampling yang sifatnya representatif. Penentuan jumlah sampel salah satu faktor yang cukup penting dalam penelitian kuantitaif. Jumlah sampel harus diperhitungkan dengan baik sehingga dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan yang valid (Ajay & Micah, 2014). Dalam kajian ini, jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan formula Slovin yang terdapat pada pers, 1 dibawah ini :

Keterangan :
n    =  Ukuran sampel
N   =  Populasi
e  = Prosentasi kelonggaran ketidakterikatan kerena kesalahan pengambilan sampel yang masih diinginkan.

Sampel  diambil dari populasi penduduk kota Palangka Raya yang berasal dari tiga kecamatan terpilih.  Pada penelitian ini sample yang diambil diharapkan mampu merepresentasikan dua kelompok masyarakat, yaitu:

  1. Responden yang bekerja di Pemerintah Kota Palangka Raya, baik itu sebagai ASN atau pegawai tidak tetap
  2. Masyarakat umum yaitu masyarakat kelurahan yang terdiri dari berbagai latar belakang (swasta, mahasiswa, ibu rumah tangga).

PENDEKATAN KAJIAN KUALITATIF
Pendekatan kualitatif dilaksanakan dengan melakukan studi literatur terhadap kebijakan dan dokumen artikel/jurnal terkait konsep Smart City dan wawancara mendalam dengan dunia usaha dan SOPD terkait pengambilan keputusan. Hal ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memahami pemanfaatan TIK  yang dibutuhkan untuk mewujudkan pengembangan Smart City Hasil penelitian dianalisis dan interpretasi sebagai temuan hasil kajian.

LOKASI KAJIAN
Kegiatan kajian ini dilaksanakan di lima Kecamatan di Kota Palangka Raya, yaitu Kecamatan Pahandut dengan Kelurahan Pahandut Seberang dan Tumbang Rungan, Kecamatan Jekan Raya dengan Kelurahan Menteng dan Petuk Katimpun, Kecamatan Rakumpit dengan Kelurahan Pager dan Mungku Baru, Kecamatan Sebangau dengan Kelurahan Kereng Bangkirai, Sabaru dan Danau Tundai dan Kecamatan Bukit Batu dengan Kelurahan Sei Gohong dan Tangkiling.

SUMBER DATA
Data kajian yang akan dikumpulkan terdiri dari 2 (dua) jenis sumber, yaitu :

  1. Data primer, yaitu data utama yang diperoleh langsung melalui subjek penelitian, yaitu instansi pemerintahan yaitu SOPD di lingkup kota Palangka Raya, dunia usaha/swasta/bisnis dan masyarakat umum.
  2. Data sekunder, yaitu dokumen terkait kebijakan pemanfaatan TIK di lingkungan Pemko Palangka Raya, kebijakan/peraturan yang berhubungan dengan layanan masyarakat dari tiap SOPD. Data sekunder juga didapatkan dari berbagai tulisan tentang pemanfaatan TIK dalam pengembangan Smart City yang diperoleh dari perpustakaan umum, bahan tulisan yang tersedia di internet.

TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik mixed methods :

  1. Wawancara mendalam secara langsung dengan subjek penelitian dalam hal ini SOPD, dunia usaha/bisnis dan masyarakat umum untuk memahami kondisi eksisting pemanfaatan TIK.
  2. Observasi, yaitu pengamatan langsung terhadap pemanfaatan TIK oleh SOPD, dunia usaha dan masyarakat umum yang berlangsung pada saat ini di wilayah kajian. Observasi juga dilaksanakan untuk mengamati kesiapan Kota Palangka Raya dalam mewujudkan Smart City di masa yang akan dating.
  3. Angket atau kuesioner, yaitu memberikan seperangkat pertanyaan kepada pihak-pihak terkait dalam hal ini adalah pihak SOPD, dunia usaha dan masyarakat umum terkait pemanfaatan TIK dan kebutuhan TIK yang diharapkan, tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan publik dan fasilitas umum serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi perwujudan Smart City di Kota Palangka Raya..
  4. Dokumentasi, yaitu melakukan penggalian data dan informasi yang sudah dilakukan dalam berbagai media, jurnal dan arsip-arsip yang dimiliki oleh SOPD maupun langsung dari subjek penelitian.

TEKNIK ANALISA DATA

  1. Melakukan klasifikasi dan pengelompokan data yang memiliki relevansi dengan tujuan penelitian.
  2. Melakukan analisa komparasi antara kebutuhan dan ketersediaan, dalam hal keberadaan sistem, kinerja, fitur, sumber daya manusia dan hal-hal terkait lainnya. Analisis ketersedian yang dilakukan untuk menilai kondisi daerah saat ini guna mendapatkan gambaran kapasitas dan kapabilitas daerah dalam menerapkan program-program pembangunan smart city. Analisa kebutuhan meliputi analisis tren dan perubahan atau perkembangan kota yang meliputi daya saing kota, perubahan teknologi, budaya, hukum, ekonomi, harapan dan perilaku masyarakat atau stakeholder kota/daerah, lingkungan dan lain-lain.
  3. Mengkategorikan hasil komparasi ke dalam sejumlah kelompok analisa berdasarkan kelompok elemen Struktur (SDM, Manajemen, Tata Pamong, Anggaran), Infrastruktur (fisik, TIK, dan sosial), dan Superstruktur (Perda dan peraturan lainnya, Kelembagaan, dan implementasinya).
  4. Melakukan analisis gap. Dalam analisis ini sistem TIK yang dibutuhkan adan disandingkan dengan dengan kondisi yang belum terpenuhi beserta usulan pendekatan perkembangannya. Analisa kesenjangan terhadap potret kesiapan Smart City dengan menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, Opportunity, & Threat) untuk melihat secara lebih tajam dan teliti akan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan pada setiap dimensi Smart City Readiness dan Enam Dimensi Smart City.
  5. Menentukan skala prioritas, dilakukan dengan menentukan sistem TIK mana saja yang harus segera dikembangkan dan diterapkan guna menunjang pembangunan Smart City di Kota Palangka Raya.
  6. Penarikan kesimpulan secara integrative sebagai temuan penelitian yang dirumuskan ke dalam konsep-konsep pemikiran.

KELUARAN
Keluaran dari hasil kajian ini adalah Dokumen Analisis Kajian Konsep Pengembangan Smart City Kota Palangka Raya Berbasis Kearifan Lokal yang dapat dijadikan kerangka acuan dalam perwujudan Smart City di Kota Palangka Raya kedepannya.

PENANGGUNG JAWAB
Penanggung jawab kegiatan ini adalah Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Palangka Raya Bidang Sub. Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pengkajian Peraturan.

PEMBIAYAAN
Pembiayaan kegiatan ini dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota Palangka Raya melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kota  Palangka Raya yang tertuang dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Badan Penelitian dan Pengembangan Kota  Palangka Raya Nomor 188.45/39/2019 tanggal 2 Januari 2019.

DAFTAR PUSTAKA
Ajay, S., & Micah, B. (2014). Sampling Techniques & Determination of Sample Size in Applied Statistics Research: An Overview. II(11), 1–22.
Alvi, M. (2016). A manual for selecting sampling techniques in research. Pakistan.
CCSN. (2012). Smart Nation: Mastering Nation’s Advancement from Smart Readiness to Smart City. Citiasia Center for Smart Nation.
Cohen, B. (2012). What exactly is a smart city. Retrieved July 30, 2019, from https://www.fastcompany.com/1680538/what-exactly-is-a-smart-city
Giffinger, R., & Gudrun, H. (2010). Smart cities ranking: an effective instrument for the positioning of the cities? ACE: Architecture, City and Environment, 4(12), 7–26.
Halcomb, E. J., & Hickman, L. (2015). Mixed methods research. Nursing Standard: Promoting Excellence in Nursing Care, 29(32), 41–47.
Harrison, C., Eckman, B., Hamilton, R., Hartswick, P., Kalagnanam, J., Paraszczak, J., & Williams, P. (2010). Foundations for smarter cities. IBM Journal of Research and Development, 54(4), 1–16.
Hayes, B., Bonner, A., & Douglas, C. (2013). An introduction to mixed methods research for nephrology nurses. Renal Society of Australasia Journal, 9, 8–14.
Pratama, I. P. A. E. (2014). Smart City Beserta Cloud Computing Dan Teknologi – Teknologi Pendukung Lainnya. Bandung: Informatika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*