Selasa , September 22 2020
Home / Berita Terbaru / BALITBANG SEMINAR AKHIR KAJIAN KONSEP PENGEMBANGAN SMART CITY BERBASISKAN KEARIFAN LOKAL DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2019
BALITBANG SEMINAR AKHIR KAJIAN KONSEP PENGEMBANGAN SMART CITY BERBASISKAN KEARIFAN LOKAL DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2019
FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

BALITBANG SEMINAR AKHIR KAJIAN KONSEP PENGEMBANGAN SMART CITY BERBASISKAN KEARIFAN LOKAL DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2019

SEMINAR AKHIR KAJIAN KONSEP PENGEMBANGAN SMART CITY BERBASISKAN KEARIFAN LOKAL DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2019

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Kota sebagai bagian dari sebuah pemerintahan, saat ini berkembang sangat pesat terutama dari sisi populasi. Hal ini mengakibatkan permasalahan di dalam sebuah kota menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, sering kali pemerintah kota  harus berinovasi untuk menemukan cara yang efektif dalam mengelola kota dan masyarakatnya.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Seiring dengan kemajuan zaman, kemajuan teknologi pun tak urung juga menjadi suatu terobosan baru yang digunakan oleh kota untuk memberikan layanan yang semaksimal mungkin bagi penduduknya, atau dikenal dengan konsep Smart City. Pemerintah Kota Palangka Raya memiliki visi kota yang teridentifikasi dalam 8 (delapan) aspek kunci untuk menjadi kota yang cerdas (Smart City) dalam aspek: pemerintahan, energi, bangunan, mobilitas, infrastruktur, teknologi, pendidikan, dan kesehatan. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk menyediakan arah kebijakan pengembangan Smart City yang sesuai dengan kearifan lokal yang ada di Kota Palangka Raya dan sesuai dengan visi misi Walikota Kota Palangka Raya untuk mewujudkankota Palangka Raya sebagai  Kota Kreatif (Creative City), Kota Cerdas (Smart City) dan Kota Hijau (Green City).

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Kajian Konsep Pengembangan Smart City berbasiskan kearifan lokal di Kota Palangka Raya menggunakan pendekatan mixed method atau merupakan kombinasi pendekatan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Pendekatan kuantitatif meliputi pendistribusian kuisioner, wawancara dan observasi ke pemerintah Kota Palangka Raya dan stakeholdernya, diikuti dengan pendekatan kualitatif yang berfokus pada penelurusan lebih dalam terhadap respon dari kuisioner tersebut.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Dalam kajian ini, analisa kesiapan Smart City Kota Palangka Raya ditinjau dari sudut pandang struktur daerah (structure); infrastruktur (infrastructure), suprastruktur (suprastructure). Berdasarkan analisa struktur daerah, Kota Palangka Raya diuntungkan dengan jumlah penduduk di range usia produktif yang cukup banyak, yaitu 15 – 64 tahun dan memiliki literasi digital TIK yang cukup tinggi. Walaupun di sisi pemerintahan, masih sedikit pegawai yang memiliki latar belakang bidang TIK, namun kemampuan TIK pegawai di lingkup pemerintah kota Palangka Raya cukup baik. Berdasarkan analisa infrastruktur daerah, Kota Palangka Raya memiliki cukup banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Misalnya kondisi jalan yang rusak, bahkan ada kecamatan yang belum memiliki akses jalan darat. Demikian pula infrastruktur digital, hanya daerah perkotaan yang terjangkau akses internet dan masih sering terjadi pemadaman listrik secara bergilir.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Namun di sisi infrastruktrur sosial, Kota Palangka Raya mempunyai banyak kemajuan. Hal ini dapat dilihat dari dibangunnya Ruang Terbuka Hijau dan Taman Kota yang juga ditunjang oleh fasilitas free wi-fi. Berdasarkan analisa suprastruktur daerah, Kota Palangka Raya juga memiliki cukup banyak aspek yang harus ditingkatkan terutama dalam hal kebijakan daerah dan kelembagaan penujang Smart City.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Kota cerdas seharusnya dibangun menggunakan prinsip berbasis pada potensi atau kearifan lokal yang dapat menjadi keunggulan dan identitas daerah. Diharapkan  dengan identitas yang berbeda meningkatkan nilai tambah dan daya saing, serta mampu menjadikan Kota Palangka Raya sebagai pusat pertumbuhan bagi daerah sekitarnya. Dalam kajian ini, sasaran strategis pengembangan Smart City di Kota Palangka Raya berbasis kearifan lokal didasarkan pada enam dimensi yaitu: Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart Society, dan Smart Environment. Kearifan lokal masyarakat Dayak, sebagai suku mayoritas di Kota Palangka Raya, dapat diimplementasikan pada enam dimensi tersebut. Bentuk kearifan lokal yang dapat diterapkan dalam dimensi Smart City dapat berbentuk budaya, sumber daya alam misalnya obat-obatan, makanan, kerajinan tangan, ataupun tempat-tempat strategis yang dapat dijadikan lokasi wisata.

Menjadikan sebuah kota sebagai Smart City adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen tidak hanya dari Pemerintah Kota Palangka Raya namun juga stakeholdernya dalam hal ini masyarakat, bisnis dan pihak industry.(FERRY (BID.1-BPP/XI/2019))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*