Kamis , Oktober 29 2020
Home / Berita Terbaru / BALITBANG SEMINAR AKHIR KAJIAN ANALISIS BONUS DEMOGRAFI TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS SERTA PENYERAPAN TENAGA KERJA DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2019
BALITBANG SEMINAR AKHIR KAJIAN ANALISIS BONUS DEMOGRAFI TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS SERTA PENYERAPAN TENAGA KERJA DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2019
FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

BALITBANG SEMINAR AKHIR KAJIAN ANALISIS BONUS DEMOGRAFI TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS SERTA PENYERAPAN TENAGA KERJA DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2019

SEMINAR AKHIR KAJIAN ANALISIS BONUS DEMOGRAFI TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS SERTA PENYERAPAN TENAGA KERJA DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2019.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Pada tahun 2030-2040 Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) diprediksi mencapai 64% dari total penduduk yang berjumlah 297 juta jiwa. Ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) usia produktif yang melimpah itu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilannya, sehingga mereka mampu menjadi penggerak perekonomian, dan bukan justru menjadi beban masyarakat. Sayangnya data menunjukkan bahwa mayoritas tenaga kerja di Kota Palangka Raya merupakan lulusan sekolah menengah umum (SMU) dan sederajat yang memiliki  produktivitas dan daya saing yang rendah.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Kualifikasi pendidikan dan keterampilan mereka belum sesuai kebutuhan pasar tenaga kerja sehingga menyulitkan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Berdasarkan hal itu diperlukan suatu strategi pengembangan keterampilan SDM melalui jalur pendidikan dan kebijakan ketenagakerjan yang tepat, agar keberadaan SDM yang melimpah tersebut memiliki daya saing dan terserap di pasar tenaga kerja. Penelitian itu bertujian untuk (1) memetakan potensi tenaga kerja dan angkatan kerja di Kota Palangka Raya, (2) menganalisis kecenderungan penyerapan tenaga kerja, (3) mengidentifikasi kebutuhan dan peluang lapangan kerja, dan (4) merekomendasikan kebijakan untuk meningkatkan kualitas dan tingkat penyerapan tenaga kerja.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Data dikumpulkan melalui kajian pustaka, wawancara dengan responden, observasi lapangan dan dokumentasi, serta kaji banding ke kota Bandung. Penelitian difokuskan di Kecamatan Jekan Raya dan Kecamatan Pahandut, sebagai wilayah yang menjadi konsentrasi penduduk di Palangka Raya. Berdasarkan wawancara dengan responden diketahui bahwa (1) mayoritas responden dengan usia 15-30 tahun (84,1%) masih berkeinginan menjadi karyawan dan Aparatur Sipil Negara (ASN), (2) faktor terpenting dalam memilih pekerjaan adalah nominal gaji pertama yang diterima serta kesesuaian pekerjaan tersebut dengan keahlian dan minat mereka, (3) para pekerja pemula mudah keluar dari pekerjaannya apabila merasa bahwa pekerjaan yang diperoleh tidak disukainya, (4) faktor terpenting dalam mencari pekerjaaan adalah keahlian dan kualifikasi pendidikan, dan (5) minat usaha yang ingin mereka kembangkan di masa depan adalah bidang perdagangan, kuliner, wisata, dan usaha yang berbasis teknologi informasi.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Disisi lain permasalahan yang saat ini dihadapi di Kota Palangka Raya ada empat, yaitu (1) banyak lulusan SMU dan sederajat serta alumni Perguruan Tinggi yang menganggur, (2) minimnya pendidikan kewirausahaan (enterpreunership) bagi angkatan kerja sehingga mereka kurang berminat dan tidak berani memulai usaha, (3) masih terbatasnya investasi/modal usaha, dan (4) belum maksimalnya penciptaan lapangan kerja. Penelitian ini selanjutnya merekemondasikan beberapa kebijakan yang dapat diadopsi oleh Pemko Palangka Raya di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Di bidang pendidikan, Pemerintah Kota Palangka Raya dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi untuk meninjau ulang kurikulum Sekolah Menengah Kejurusan (SMK) sehingga sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja dan potensi lokal. Jenis pendidikan vokasi (SMK) yang dapat dikembangkan adalah kerajinan rotan, perkebunan, pertanian, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tata boga, dan kepariwisataan. Pemerintah Kota Palangka Raya juga perlu mendorong program link and match antara sekolah dengan dunia kerja (pemagangan), serta mendukung pembukaan prodi yang relevan bagi penyerapan tenaga kerja.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Di bidang ketenagakerjaan Pemerintah Kota Palangka Raya perlu mengambil kebijakan sebagai berikut: (1) melanjutkan kerjasama job fair dengan perguruan tinggi dan dunia usaha, (2) menyusun dan menyebarluaskan informasi bursa tenaga kerja dengan memanfatkan seluruh kanal informasi yang dimiliki, (3) menjaring, memetakan potensi, serta melakukan seleksi awal terhadap (calon) tenaga kerja yang akan disalurkan atau dilatih melalui aplikasi online, (4) meningkatkan paket pelatihan dan kursus  yang relevan melalui program Balai Latihan Kerja (BLK), (5) mempersiapkan atau menfasilitasi  program sertifikasi untuk tenaga terampil, serta (6) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung untuk pengiriman tenaga kerja terampil dan tersertifikasi untuk bekerja di luar negeri seperti Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. (FERRY (BID.1-BPP/XI/2019))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*