Selasa , Oktober 20 2020
Home / Berita Terbaru / BALITBANG MENGADAKAN SEMINAR AKHIR KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL PENCEGAHAN IMS (NFEKSI MENULAR SEKSUAL) DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2019
BALITBANG MENGADAKAN SEMINAR AKHIR KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL PENCEGAHAN IMS (NFEKSI MENULAR SEKSUAL) DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2019
FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

BALITBANG MENGADAKAN SEMINAR AKHIR KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL PENCEGAHAN IMS (NFEKSI MENULAR SEKSUAL) DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2019

SEMINAR AKHIR KAJIAN PENGEMBANGAN MODEL PENCEGAHAN IMS (NFEKSI MENULAR SEKSUAL) DI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2019

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Infeksi menular seksual (IMS) merupakan salah satu penyebab permasalahan kesehatan, sosial dan ekonomi dibanyak negara (Kemenkes RI, 2015). Menurut WHO IMS adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual baik secara vaginal, anal dan oral. IMS disebabkan oleh mikroorganisme lebih dari 30 bakteri, virus, parasit, jamur yang berbeda dimana dapat ditularkan melalui kontak seksual dan kebanyakan infeksi ini bersifat asimtomatik atau tidak menunjukkan gejalanya sama sekali. Salah satu penyebabnya adalah transaksi seks dan tingkat pengetahuan yang rendah. Di Kota Palangka Raya dilaporkan penderita IMS sebanyak 13 kasus, sedangkan penderita HIV-AIDS dilaporkan 20 kasus (Dinkes Provinsi Kalteng, 2016). Berdasarkan data Dinkes Kota Palangka Raya tahun 2018 data IMS yaitu 281 kasus, HIV 75 kasus dan AIDS 40 kasus.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Berdasarkan masalah tersebut, upaya yang dapat dilakukan perawat/ tenaga ksehatan selain memberikan asuhan keperawatan adalah dengan upaya promotif yaitu memberikan informasi melalui pendidikan kesehatan dengan model PSPKE antara lain: 1). Penyuluhan (oleh petugas kesehatan), 2). Sebarkan (dari penerima informasi kepada anggota keluarga), 3). Pemantauan (oleh anggota keluarga), 4). Kontrol Kesehatan Reproduksi (di fasilitas kesehatan), 5). Evaluasi (oleh tenaga kesehatan). Pemberian informasi dan pengetahuan tentang IMS dimana yang harus dijelaskan adalah pencegahan IMS sehingga dengan informasi ataupun pengetahuan yang dimiliki keluarga maupun masyarakat yang beresiko dapat melakukan suatu upaya dalam mengontrol dan mencegah IMS.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Tujuan Penelitian yaitu mengidentifikasi upaya/ program pencegahan IMS yang efektif dari dinas terkait; mengidentifikasi tahapan penertiban area beresiko sehingga tidak memperluas penyebaran IMS; mencegah penularan Infeksi Menular Seksual di kalangan masyarakat baik masyarakat umum maupun masyarakat beresiko di kota Palangka Raya; mengidentifikasi pengetahuan masyarakat tentang IMS sebelum dan setelah  diberikan intervensi di Kota Palangka Raya; menganalisis efektifitas Pengembangan Model Pencegahan IMS (Infeksi Menular  Seksual) Di Kota Palangka Raya.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Ruang lingkup wilayah kajian adalah seluruh Puskesmas di Kota Palangka Raya dan Wilayah Beresiko IMS (daerah Jl. Lintas Provinsi). Waktu pelaksanaan kegiatan ini selama 3 (tiga) bulan, mulai Juli – Oktober 2019.

Hasil Penelitian menunjukkan: 1). Kurangnya Pengetahuan Masyarakat tentang HIV-AIDS dan IMS; 2).  Adanya mitos-mitos menyesatkan, seperti: Minum obat-obatan setelah hubungan sex, membasuh alat kelamin dengan cuka, air soda, alkohol, air jahe dll segera stlh hubungan seks, Mencuci liang senggama dengan memasukkan  odol, betadine dan jamu dan lain-lain; 3). Kesadaran masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan masih kurang , faktor Sosial; 4). IMS Diobati sendiri dengan antibiotic namun tidak sembuh total namun berdampak resistensi terhadap obat-obatan; 5). Stigma dan diskriminasi; 6). Anggapan bahwa upaya penanggulangan HIV-AIDS hanya  milik Instansi atau kelompok tertentu.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Fakta penanggulangan IMS: 1). Kasus IMS di Kota Palangka Raya terus meningkat; 2). Akses kelompok Resti ke layanan IMS masih rendah; 3). Masyarakat umum enggan datang ke layanan IMS karena merasa tidak beresiko; 4). Jumlah SDM dan Layanan IMS di Kota Palangka Raya yang memahami tatalaksana IMS sesuai pedoman masih terbatas (Hanya puskesmas tertentu yang memiliki konselor VCT); 5). Kelompok Resti lebih banyak mengakses layanan IMS tertentu; 6). Keterbatasan saran dan Logistik pelayanan IMS; 7). Kampanye kondom oleh petugas pelayanan kesehatan belum optimal, petugas enggan dan ragu; 8). Masih banyak masyarakat beresiko mengakses klinik/ bidan/ dokter swasta; 9). penderita IMS/HIV tidak jujur kepada petugas kesehatan dalam penggunaan kondom dan masih berprilaku beresiko menularkan kepada orang lain; 10). Klien (penderita HIV) masih banyak yang tidak rutin kontrol dan putus obat; 11). Pelanggang WPS terkadang menolak menggunakan kondom

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Beberapa strategi pencegahan dan penanggulangan IMS di kota palangka raya: 1).  Pemeriksaan HIV, syphylis, hepatitis pada ibu hamil (wajib) dan pasien suspek yg berobat ke puskesmas; 2). Layanan pengobatan bagi kasus aktif (syphilys, untuk hiv masih dirujuk ke RSUD dr.  Doris  Silvanus tetapi dalam waktu dekat akan dibuka layanan PDP di 3 Pkm (Marina Permai ,Panarung Jekan Raya); 3). Pemberian vaksin bagi bayi baru lahir dengan ibu positif hepatitis; 4). Layanan Klinik IMS setiap hari Kamis di lokalisasi Bukit Sungkai; 5). VCT mobile oleh LSM (PKBI) dan puskesmas  di wilayah populasi kunci; 6). Layanan pemeriksaan HIV di Posbindu untuk masyarakat; 7). Pemetaan spot-spot populasi kunci; 8). Pendampingan ODHA oleh relawan /penjangkau dari LSM; 9). Joint TB-HIV (semua penderita TB wajib periksa HIV dan sebaliknya)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Deskripsi data demografi responden dari kriteria pendidikan responden yaitu 248 responden (35.43%) pendidikan SMA, 180 responden (25.71%) Sarjana, 162 rerponden (23.14%) SMP, 66 responden (9.43%) SD dan 44 responden (6.29%) tidak sekolah. Berdasarkan kriteria pernah atau tidak mendapatkan informasi Tentang Infeksi Menular Seksual yaitu pernah mendapatkan informasi 414 responden (59.14%) dan 347 responden (49.57%) tidak pernah mendapat informasi dan dari data usia didapatkan 417 responden (60%) berusia 20-35 tahun, 185 responden (26%) berusia 36-45 tahun, dan 98 responden (14%) berusia 45-59 tahun.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji Wilcoxon pada metode Brain Storming (Curah Pendapat) didapatkan p-value 0,000 < dari nilai 0,05, metode Buzz Group didapatkan p-value 0,000 < dari nilai 0,05 dan metode Diskusi Kelompok didapatkan p-value 0,000 < dari nilai 0,05 sehingga Ha diterima. Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang infeksi menular seksual dengan metode Brain Storming, Buzz Group dan Diskusi Kelompok.

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

FOTO : FERRY (BID.1-BPP/XI/2019)

Rekomendasi dari hasil penelitian kepada Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Pemerintah Kota Palangka Raya dan Dinas Terkait antara lain: 1). Kontroling dan pembinaan difokuskan pada wilayah dan program prioritas; 2). Peningkatan jejaring di setiap wilayah melalui  media social 3). Pembuatan aplikasi android berbasis internet untuk akses logistic, data, kebijakan, peningkatan pengetahuan dll. 4). Advokasi penganggaran reagent melalui bidang SDK dan penganggaran program terkait IMS/HIV di bidang lain 5). Pemetaan wilayah dan program prioritas 5). Peneggakan Perda HIV di Kota Palangka Raya;  6). Jumlah SDM pengelola program HIV di tingkatkan; 7). Motivasi Mobile VCT  & ANC layanan; 8). Dukungan lintas sektoral (Kominfo, Pemberdaayan Peremuan dan Perlindungan Anak, Dinas Sosial, Dina Pariwisata dll) serta dukungan APBD perlu di tingkatkan. (FERRY (BID.1-BPP/XI/2019))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*